Mengajarkan nilai-nilai agama dan kepercayaan memang harus dilakukan sejak dini, termasuk
dalam hal ibadah seperti puasa. Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat bagi orangtua untuk
mengajarkan berbagai dasar ajaran islam karena pada bulan ini terdapat berbagai kebiasaan yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Anak yang cenderung meniru dan memperhatikan perilaku orangtuanya, pasti akan banyak bertanya mengapa orang tua mereka mengubah kebiasaan ibadah pada bulan Ramadhan. Jika anak sudah mulai bertanya dan ingin tahu inilah saatnya orang tua mengajarkan nilai-nilai ajaran agama islam termasuk dalam hal menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Anak Ketahuan Berbohong dan Tidak Puasa? Jangan Marah Moms, Ini Tips Menghadapinya

Tips Menghadapi Anak yang Berbohong dan Tidak Puasa

Saat pertama kali mengajarkan anak untuk berpuasa, orangtua tidak boleh berfokus pada hasil,
melainkan harus lebih terfokus pada kesiapan anak. Dalam menjalankan ibadah puasa anak akan mengalami banyak perubahan, terutama dalam hal pola makan. Anak yang biasanya makan teratur dalam sehari, kini harus bisa menahan rasa lapar dan haus. Hal itu tentu tidak mudah, apalagi bagi anak yang doyan ngemil dan suka jajan.

Nah pada beberapa anak, ditemukan kasus mereka berbohong soal puasanya. Anak-anak yang berbohong ini biasanya akan makan secara sembunyi-sembunyi kemudian menjelang waktu berbuka tetap terlihat antusias dan mengatakan pada orangtuanya bahwa mereka telah berpuasa seharian penuh. Orangtua yang mengetahui kebohongan anak ini pasti akan merasa kecewa, karena selain merasa gagal dalam mengajarkan nilai agama orang tua juga telah gagal dalam menanamkan moral kejujuran pada anak.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua jika anak ketahuan berbohong mengenai puasanya? Simak tips berikut.

Tips Menghadapi Anak yang Berbohong dan Tidak Puasa
baca juga

Jangan Marah

Memergoki anak berbohong soal puasa yang dijalaninya pasti membuat orang tua kecewa, namun memarahinya tidak akan membuat anak menjadi lebih baik, bahkan justru bisa sebaliknya. Orang tua yang marah dan menghukum anaknya karena berbohong, dapat memicu anak membuat kebohongan-kebohongan berikutnya. Hal ini dikarenakan anak malah akan berusaha menghindari kemarahan dan hukuman orang tua dengan kebohongan, bukannya ingin mengubah perilakunya.

Sebaiknya orang tua menjelaskan bahwa berbohong adalah sesuatu yang salah dan tidak disukai Allah, berbohong memang tidak membatalkan puasa tapi dapat mengurangi keberkahan dari ibadah itu sendiri. Jangan lupa juga untuk memberi kesempatan lagi kepada anak setelah menasihatinya.

Jangan Marah

Jangan Menuduh dan Menyebutnya Pembohong

Reaksi orang tua saat mengetahui telah dibohongi oleh anak memang beragam, tapi salah satu
yang paling buruk adalah menuduh anak sebagai pembohong karena satu kebohongan yang telah ia lakukan. Umumnya anak berbohong untuk menghindari hukuman atau amarah dari orang tua mereka, termasuk saat anak belajar puasa tapi ternyata tidak kuat untuk menahan rasa lapar.

Anak berbohong karena merasa hal itu dapat melindungi diri mereka, maka jika orang tua menuduh anak dan menyebutnya pembohong, hal itu dapat dianggap anak sebagai stigma yang telah dilekatkan pada diri mereka. Jadi selanjutnya mereka akan mencoba untuk lebih rapi dalam
menutupi kebohongan, toh bagi mereka tuduhan sebagai pembohong sudah melekat dalam diri. 

Jangan Menuduh dan Menyebutnya Pembohong
baca juga

Berikan Pujian

Ketika anak belajar puasa untuk pertama kalinya, berikan apresiasi sesuai dengan capaian yang ia dapat, karena umumnya anak belum bisa menuntaskan puasa hingga sehari penuh. Meskipun anak hanya hanya bisa bertahan hingga pukul 9 pagi, 12 siang, atau 3 sore, tetap apresiasi pencapaian tersebut, katakan bahwa ia telah berhasil berpuasa selama beberapa jam dari sebelumnya yang tidak pernah berpuasa.

Saat anak dapat melakukan puasa dengan durasi yang semakin lama pada hari berikutnya, apresiasi juga kemajuannya. Gunakan kata-kata positif berupa pujian atau kalimat yang memotivasi anak agar dapat melakukan perilaku positif lain, usahakan untuk tidak memberi apresiasi berupa hadiah karena akan mengubah persepsi anak dari menjalankan kenikmatan puasa menjadi kenikmatan mendapat hadiah.

Berikan Pujian